الأربعاء، 13 فبراير، 2013

sejarah Kyokushin Indonesia

BAGIAN 1
Akhir tahun 1966 seorang pemuda yang gemar seni beladiri dan sering terlibat perkelahian membela temannya diwaktu muda , meninggalkan kampung halamannya, pulau Bintan, menuju ke Pemangkat, Kalimantan Barat dengan berlayar selama 14 hari dari satu pulau ke pulau lain untuk bergabung dengan familinya bersama-sama menuju ke kota Malang meneruskan sekolah di Sekolah Menengah Atas Santo Yusup. Tiba di Malang awal 1967 langsung menuju ke pemondokan di daerah Jl. Muria, Malang. Ketika itu seni beladiri Jujitsu begitu populer di kota Malang dan banyak temannya yang berlatih ilmu beladiri tsb. Tetapi sang pemuda ini tidak begitu tertarik, menurutnya kurang praktis. Dia mulai tertarik dengan film - film beladiri yang memperlihatkan kehebatan pukulan tangan kosong dengan sekali pukul mematikan lawan (ichi geki hisattsu) yang lebih populer disebut Karate.
Pertengahan 1967 , teman sekelasnya yang bernama Hok Gwan memberitahukan, bahwa dia mulai belajar beladiri Karate di kota Batu (18 Km dari Malang ) dengan seorang guru bernama Nardi dan nama perguruannya Go No Sen. Pemuda ini sangat tertarik dan minta dikenalkan dengan sang guru tsb. Namun keinginan untuk segera ikut berlatih baru terwujud ketika mulai dibuka cabang pertama Go No Sen di PMKRI Malang pada bulan Februari 1968. Sejak itulah sang pemuda yang sangat tertarik dengan ilmu beladiri Karate mulai rajin berlatih setiap ada kesempatan. Rupanya kegairahan masa mudanya disalurkan melalui latihan seni beladiri ini.
Tidak ada satu hari pun dilewati tanpa berlatih karate. Diantara teman-teman latihan sebanyak kurang lebih 100 orang, tinggal hanya dia sendiri yang bertahan. Pemuda tsb. adalah Shihan J.B. Sujoto, pimpinan Kyokushin Karate di Indonesia pada saat ini.

Th.1969 , setamat dari sekolah, dia diajak oleh gurunya pindah ke Batu untuk melanjutkan latihan dan sekaligus membantu mengembangkan perguruan karate ini . Keluarganya yang meminta dia agar segera kembali ke rumah apabila tidak ingin melanjutkan sekolah, tidak ditanggapi dan memilih untuk berlatih karate .
Melihat kesungguhan hati pemuda ini, pada pertengahan 1970, gurunya memberanikan diri meninggalkan Tanah Air menuju ke Singapore ( Pusat Kyokushin Asia Tenggara ) selama 3 bulan dan Tokyo ( Pusat Kyokushin ) selama 3 bulan untuk memperdalam karate aliran Kyokushin dan sekali gus minta pengakuan sebagai perwakilan Kyokushin di Indonesia . Total meninggalkan Tanah Air selama 6 bulan .

Selama 6 bulan , pemuda yang sudah berketetapan hati untuk mengabdikan hidupnya pada seni beladiri karate ini merintis dojo-dojo baru dan berlatih serta melatih di kota-kota Malang, Pasuruan, Probolinggo dan Batu sendiri setiap hari.
Seluruh hasil yang diperoleh dari melatih dikirim ke gurunya setiap bulan yang sedang melanjutkan latihan diluar negeri selama setengah tahun . Semangatnya sangat besar dan pengabdiannya total serta harapannya sangat tinggi terhadap perguruan karate ini . Didalam menjalankan tugasnya, kadang-kadang dia dibantu oleh Unang Hendrawan, salah satu senior yang aktif . Bersamaan pada waktu itu cabang Surabaya juga sudah dirintis dan dilatih oleh Handy Setiawan .
Akhir 1970 gurunya kembali dari Tokyo dengan status resmi sebagai pimpinan perwakilan Kyokushin di Indonesia. Nama Go No Sen diganti dengan nama Pembinaan Mental Karate Kyokushinkai Karate-Do Indonesia.
Awal 1971 diadakan latihan khusus untuk membentuk kader-kader pelatih. Diantara 15 orang yang menjalankan latihan hanya 2 orang yang dinyatakan lulus yaitu Sujoto dan Unang. Begitu selesai menjalankan latihan khusus selama 2 minggu, Sujoto dikirim ke Jember (Jatim) merintis dojo baru. Selama 7 bulan di Jember, dia ditarik kembali ke Batu dan Unang menggantikan posisinya .
Awal 1972 dia dikirim ke Madiun untuk merintis dojo baru dan dari sana berturut-turut membuka dojo-dojo baru di Kediri, Caruban, Solo dan Yogya .
Di Kediri inilah muncul seorang murid yang bernama Sukarno Djunaedi yang tetap aktif dan loyal kepada Kyokushin sampai sekarang dan kini sebagai Anggota Dewan Guru .
Jadi total ada 5 kota yang harus didatangi setiap hari untuk memberikan latihan dan latihan . Dari Senen hingga Minggu , dan berangkat dari pagi hari hingga kembali ke Madiun pada tengah malam .
Orang lain bertanya-tanya apakah tidak melelahkan menjalankan tugas-tugas tsb , tetapi sang pemuda ini sangat menikmatinya , karena dari tugas melatih setiap hari itu, tumbuh kematangan mental spiritualnya disamping teknik karate dan kekuatan phisik. Keyakinan dirinya yang tinggi itulah membuat dia dikenal tahan pukul terhadap setiap lawan yang dihadapi sehingga dikatakan memiliki dada tebal. "Sesungguhnya bukan hanya saya yang tahan pukul, mereka yang latihannya sedemikian rupa juga memiliki kemampuan serupa", komentar pemuda ini.
Pada tahun 1972 dia menerima sabuk hitam tingkat pertama (DAN I ) setelah dicoba melawan sebanyak 17 orang yang hadir secara bergantian. Kalau di pusat Jepang untuk mengambil tingkatan DAN I diharuskan melawan 10 orang secara bergantian, sedangkan gurunya mencoba pada dirinya sebanyak 17 orang . Ini pengalaman yang tidak dimiliki oleh orang lain kecuali dia . Selama di Madiun dia tinggal serumah dengan Bondan Gunawan , mantan Sekretaris Negara R.I. yang hingga kini masih terjalin persahabatan dengan baik. Bondan termasuk murid pertama di Madiun . Sering terlibat diskusi mengenai perkembangan perguruan karate ini dan dia paling tahu bagaimana loya-
litas pemuda ini terhadap gurunya . Bondan hingga sekarang masih aktif sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat Kyokushin . Desember 1973, sekali lagi Sujoto dikirim ke Semarang (Jawa Tengah) untuk merintis dojo baru . Karena harus menanggung biaya hidup seorang adik yang mengikutinya , dia mulai merangkap bekerja pada sebuah biro perjalanan yang mengijinkan dia tetap melatih pada hari-hari tertentu . Meskipun demikian, dia masih terus berusaha membuka cabang-cabang baru seperti di Tegal, Pekalongan, Salatiga dan Semarang sendiri . Karena sudah mulai bermunculan kader-kader pelatih, cabang-cabang tersebut langsung diisi dengan pelatih baru .
Selanjutnya kehidupan di perguruan karate ini hanya diisi dengan melatih di Semarang dan membantu pengawasan perkembangan di wilayah Jawa Tengah.
Lama kelamaan ,mulai terasa ada kejenuhan karena pertumbuhan perguruan ini terasa monoton . Keinginan untuk dapat melanjutkan latihan ke tingkat yang lebih tinggi tidak tersalurkan , sementara kemampuan organisasi perguruan tidak juga mengalami peningkatan . Namun demikian Sujoto masih tetap membantu melaksanakan kegiatan - kegiatan termasuk kejuaraan-kejuaraan .
Tahun 1975 dia menerima sabuk hitam tingkat kedua
( DAN II ) .
Mei 1978, Sujoto menikah dengan Lanita, seorang dokter di RS.Telogorejo Semarang . Dojo di Tegal juga dirintis melalui jasa istrinya yang memang berasal dari Tegal .
April 1981, Sujoto sudah benar-benar merasa jenuh dan menginginkan suatu perubahan didalam organisasi perguruan ini dan dia berangkat ke Batu untuk mendiskusikan hal tsb. dengan gurunya . Hal paling prinsip yang diusulkan adalah supaya diberlakukan sistem desentralisasi agar daerah dapat lebih leluasa didalam menyelenggarakan kegiatan organisasi namun tetap terikat dengan pusat, jadi bukan lepas total . Usulan yang semula disambut dengan baik akhirnya ditolak mentah-mentah . Disamping bermaksud menyampaikan pemikiran demi kemajuan perguruan, Sujoto juga pamit akan berangkat ke Singapore sekalian pulang ke kampung halaman. Pulau Bintan dan Singapore letaknya berdekatan . Gurunya menitip pesan agar menanyakan kesiapan Singapore didalam menghadapi Kejuaraan Indonesia yang mengundang negara-negara dari Asia Pasifik pada bulan Juni 1981 di Jakarta .
Pertemuan pertama dengan Shihan Peter Chong, Ketua Kyokushin Asia Tenggara, dia langsung menyerang Shihan Nardi habis-habisan mengenai sikapnya yang tidak bersahabat serta sistem sentralisasi yang dijalankan selama ini . Rupanya pernah ada beberapa organisasi karate dari Indonesia yang ingin bergabung dengan Kyokushin melalui Singapore tetapi ditolak oleh Shihan Nardi . Peristiwa demikian membuat mereka tidak dapat bekerja sama dengan baik .
Setelah mendapat kesempatan untuk berbicara, Sujoto menyampaikan pesan dari gurunya mengenai masalah persiapan Kejuaraan pada bulan Juni 1981 yad . Shihan Peter Chong yang masih belum puas , melanjutkan penjelasan mengenai sistem otoriter yang dijalankan Shihan Nardi selama ini . Sujoto yang memang sudah berketetapan untuk mengundurkan diri sekembalinya dari Singapore , akhirnya menyampaikan pemikirannya mengenai sistem desentralisasi yang pernah diusulkan kepada gurunya , namun tidak disetujui , dan oleh karena itu berkeputusan akan mengundurkan diri dari dunia karate .
Mendengar demikian, Shihan Peter Chong langsung menyarankan agar dia jangan mundur dan menyanggupi untuk membantu Sujoto mewujudkan keinginannya melaksanakan sistem desentralisasi dengan cara mengangkat Sujoto sebagai Branch Chief di wilayah Jawa Tengah .
Mendengar tawaran demikian, Sujoto mengajukan satu persyaratan, yaitu bahwa keputusan tsb. harus bisa di terima oleh Sosai Masutatsu Oyama, Shihan Peter Chong dan Shihan Nardi . " Saya hanya berbeda pandangan didalam penyelenggaraan organisasi perguruan , tetapi saya tetap respek terhadap Shihan Nardi, karena dia adalah guru saya " , demikian ditambahkan Sujoto .
Mendengar demikian, Shihan Peter Chong langsung menimpali, " Kamu benar, bagaimanapun dia adalah orang pertama yang mengajarimu karate " . Itulah Budo Karate yang memegang teguh jiwa satria .
Sayang sekali, masalah desentralisasi yang rencananya akan dibicarakan di Jakarta pada saat Kejuaraan tidak terlaksana karena Sosai Masutatsu Oyama tidak jadi hadir . Supaya urusan tidak menjadi runyam, maka Sujoto minta Shihan Peter Chong agar jangan menyinggung permasalahan ini lagi karena akan sia-sia saja mengingat mereka berdua tidak akur .
Sujoto sungguh-sungguh sudah menyerah dan ingin mengundurkan diri begitu kejuaraan selesai. Namun Shihan Peter Chong memberi harapan lagi dengan mengatakan, bahwa awal bulan November 1981 ada Kejuaraan All Japan Open Karate Tournament di Tokyo dan dia akan hadir , begitu juga Shihan Nardi . Jadi sang pemuda yang sudah berancang-ancang untuk mengundurkan diri diminta untuk bersabar hingga bulan November 1981 sekembalinya dari Tokyo .
Mendengar demikian, Sujoto akhirnya bersedia menunggu , karena pada dasarnya Kyokushin Karate sudah menjadi bagian dari hidupnya. Namun demikian, peristiwa selanjutnya merubah jalan hidup sang pemuda ini.
Begitu kejuaraan selesai , terjadi suatu perubahan yang sangat dahsyat . Tanpa diduga , Sujoto akhirnya dipecat dan di cap sebagai penghianat perguruan dengan tuduhan-tuduhan yang sangat menyakitkan hati . Pemuda yang hidupnya sudah diserahkan dengan sepenuh hati kepada Kyokushin Karate dan sangat loyal terhadap perguruannya , akhirnya harus mengalami tekanan bathin yang luar biasa.
Keinginan untuk mengundurkan diri dari dunia karate secara suka rela pada awalnya menjadi berbalik 180 derajat . Timbul suatu tekad yang luar biasa untuk berangkat ke Pusat Kyokushin di Tokyo untuk menghadap Sosai Masutatsu Oyama untuk mendapatkan suatu solusi yang pasti sebelum akhirnya benar-benar mengucapkan selamat jalan terhadap Kyokushin Karate didalam kehidupannya kalau Sosai Oyama juga memberi keputusan yang sama seperti gurunya .

Awal Oktober 1981 Sujoto menuju ke Honbu Kyokushin, Tokyo . Rupanya jalan hidup Sujoto masih harus panjang di Kyokushin. Sosai Masutatsu Oyama, pendiri Kyokushin Karate, yang tidak pernah bertemu dengan Sujoto sebelumnya, mempunyai penilaian yang lain setelah bertemu dengan Sujoto yang harus menunggu di Tokyo hampir 3 minggu lamanya .

Kehidupan Sosai Oyama sehari-hari selalu mengelilingi dojo-dojo baik didalam negeri maupun diluar negeri . Kyokushin Karate sudah tersebar di hampir 100 negara . Setelah melihat sendiri dan mendengar semua yang disampaikan Sujoto, akhirnya dia di angkat resmi sebagai Branch Chief untuk wilayah Jawa Tengah pada tanggal 24 Oktober 1981 . Tekanan bathin selama 4 bulan hilang seketika ; suatu semangat yang luar biasa menyelinap kedalam hatinya untuk segera pulang kembali ke Tanah Air dan melanjutkan hidupnya di dunia Kyokushin Karate yang hampir ditinggalkan .

Tiba di Tanah Air beberapa senior yang masih tetap respek menyambut kedatangannya dan ikut merayakan keberhasilan dari sebuah perjuangan kebenaran yang sesungguhnya, sesuai nama perguruan ini yaitu " Kyokushin " .
Berjuanglah hingga mencapai yang paling sejati
.

Bagian 2
Setelah diangkat secara resmi sebagai Branch Chief untuk wilayah Jawa Tengah, Sujoto segera melaksanakan latihan khusus untuk membentuk kader-kader pelatih. Beberapa senior yang tetap loyal dan memilih bergabung kepadanya datang dari berbagai daerah khususnya mereka yang mengenal dengan baik pribadi Sujoto , untuk mengikuti latihan khusus di Semarang .
Usaha untuk tetap bekerja sama dengan gurunya tidak berhasil maka terpaksa Sujoto membentuk wadah dengan nama baru . Maka pada tanggal 25 Januari 1982 ditetapkan berdirinya organisasi perguruan karate baru dengan nama INDONESIA KARATE-DO KYOKUSHINKAIKAN .


Dalam waktu singkat lima propinsi di pulau Jawa sudah terdapat dojo-dojo Kyokushin dibawah naungan organisasi karate baru ini . Hal ini merupakan modal utama bagi Sujoto untuk terus berusaha membangun Kyokushin baru. Apa yang dilihat di Honbu ( Pusat ) , mendorongnya untuk segera membuat perbaikan-perbaikan didalam latihan .
Ternyata masih banyak yang perlu diserap dari latihan-latihan yang sempat diikuti selama berada di Tokyo . Hal seperti ini yang didambakan Sujoto sejak dulu agar latihan-latihan nya mengalami perkembangan .
Sosai Oyama mengatakan : " 1.000 hari latihan baru sebagai permulaan , setelah 10.000 hari latihan baru mencapai puncaknya " Kalau ibaratnya ilmu beladiri karate seperti sebuah gunung es yang muncul dipermukaan laut, maka 1.000 hari pertama kita baru mencapai di permukaan gunung es yang nampak, sedangkan 2/3 bagian yang ada didasar laut ,baru dapat kita selami setelah 10.000 hari latihan . Untuk dapat tiba disana selain latihan yang terus menerus, juga perlu mendapat bimbingan , dorongan , pengarahan yang tepat dari mereka yang sudah lebih dulu menyelaminya .
Motto Sujoto adalah : " Seribu teori yang bagus tidaklah akan bermanfaat apabila tidak dilaksanakan " . Kebanyakan orang terlalu banyak membicarakan teori , memperdebatkannya , dan akhirnya kelelahan untuk berlatih . Dia hanya berlatih dengan teori, mengingat-ingat dengan pikiran saja.Untuk memahami karate, tubuh kita yang harus disuruh untuk mengingat-ingat dengan cara latihan dan latihan.Dengan jalan demikianlah kita akan dibimbing sedikit demi sedikit ke pemahaman yang lebih dalam.

Oleh sebab itu setiap orang yang datang ingin berlatih dengannya selalu diberi pemahaman demikian agar orang tsb. dapat melangkah lebih jauh didalam usahanya mencari arti yang sebenarnya dari seni beladiri Kyokushin Karate .
Didalam sumpah dojo dan sebelas motto yang ditulis Sosai Oyama sudah mencakup pemahaman mengenai segi spiritual Kyokushin yang sangat dalam . Dengan menghayatinya secara sungguh-sungguh ( bukan hanya terus berteori ) disertai dengan upaya untuk menjalankan latihan yang dilakukan dengan segenap hati dimana pikiran dan hati menyatu didalam latihannya ( masuk kedalam suasana Zen ), maka orang tsb. akan dituntun setapak demi setapak melangkah di Jalan Budo Kyokushin Karate .
Oktober 1982, untuk pertama kali diundang selaku Branch Chief menghadiri The 1st South East Asia Karate Tournament di Singapore. Sujoto tidak mengirimkan atlet karena hak untuk mengirim atlet diberi kepada gurunya, namun tidak ada yang hadir .
Sujoto hanya diminta membantu didalam perwasitan . Setelah selesai turnamen, Sujoto menjalankan latihan beberapa hari di sana dibawah bimbingan Shihan Ryoichi Matsushima dan Shihan Hiroshi Masuda , dua pelatih Jepang yang hadir di turnamen .
Maret 1983, Sosai Masutatsu Oyama menghadiri Kejuaraan Karate Sri Lanka Terbuka di Colombo. Seluruh Branch Chief di wilayah Asia Tenggara diminta hadir , karena akan diadakan pertemuan sehubungan dengan rencana kunjungan Sosai Oyama keseluruh perwakilan Kyokushin di Asia Tenggara . Sujoto hadir sedangkan gurunya tidak .
April 1983, Sosai Mas. Oyama untuk pertama kali mengunjungi Indonesia dan disambut dengan meriah oleh panitia penyambutan yang diketuai Bondan Gunawan .
Sosai Oyama membawa dua orang Uchi Deshi (murid Kyokushin yang menjalankan 1.000 hari latihan di Honbu) , salah satunya bernama Shokei Matsui . Dia inilah yang sekarang diangkat sebagai penerus Sosai Oyama .

Selama berada di Jakarta melakukan latihan beberapa kali dan juga melakukan kunjungan kehormatan ke alm. Bapak Adam Malik , alm. Jenderal TNI (Purn) Widodo, FORKI Pusat dan KONI Pusat . Dihadapan Ketua PB.FORKI ( Brigjen. Subhan Djajaatmaja ) dan Ketua KONI Pusat ( Sultan Hamengku Buwono IX ) , Sosai Mas. Oyama memberikan pernyataan resmi , bahwa Sujoto adalah pimpinan Kyokushin di Indonesia .
Sekembali dari KONI, sorenya rapat intern di kantor Bondan Gunawan yang diikuti oleh utusan - utusan dari seluruh Pengurus Daerah yang hadir di Jakarta . Sosai Oyama merasa kagum dengan penggemar Kyokushin yang demikian banyak dan tersebar di wilayah yang begitu luas . Secara spontan Sosai Oyama memberikan do-gi buatan Honbu kepada seluruh Pelatih yang hadir yang akan dikirim kemudian .
Disamping itu juga memberikan tawaran kepada Sujoto untuk menerjemahkan buku-buku karangannya kedalam bahasa Indonesia untuk bahan bacaan di Indonesia . Tawaran tsb. hanya disimpan dihati Sujoto dan baru pada tahun 1992 Sujoto memberanikan diri menyusun buku-buku dengan judul Teknik Oyama Karate seri Kihon dan Kata atas restu dari Sosai Masutatsu Oyama .
Oktober 1983, melaksanakan Kejurnas Kyokushin Karate I di Semarang . Mengingat organisasi karate ini baru terbentuk sehingga belum terlihat atlet-atlet yang cukup handal, sehingga masih terlihat warga lama yang mendominasi .
Januari 1984 , berangkat ke Tokyo menghadiri World Open Karate Tournament (WOKT) ke III yang dapat diikuti oleh seni beladiri apa saja tanpa pembagian kelas . Empat atlet lama termasuk Sujoto sendiri mewakili Kyokushin Indonesia didalam forum tsb.
Walaupun tidak ada yang berhasil , namun pengalaman dari kejuaraan tsb. sangat besar artinya bagi Sujoto untuk meningkatkan pola latihan dan teknik-teknik karate Kyokushin. Memang tidak bisa dalam waktu sekejap untuk menciptakan atlet yang siap bertanding, lebih-lebih di forum tingkat dunia .
Orang harus mengabdi total sejak muda pada latihan gaya Kyokushin ini serta mendapat pembinaan yang benar, baru dapat diharapkan untuk berprestasi di kompetisi tingkat dunia . Sayang sekali kesempatan ini tidak muncul pada masa muda Sujoto .
Maret 1984, Paku Alam Cup I di laksanakan di kota Yogyakarta oleh Pengda D.I.Y.

September 1984, Kyokushin Indonesia menjadi tuan rumah The 2nd South East Asia Karate Tournament dengan dukungan sepenuhnya dari Bondan Gunawan . Sosai Mas. Oyama kembali mengunjungi Indonesia untuk kedua kalinya . Kedatangannya kali ini disertai Makoto Nakamura, Juara Dunia thn 1979 dan 1984 serta Takashi Yoshinaga ( seorang Uchi Deshi pusat ) .
Sosai ingin agar Sujoto mendapatkan lebih banyak latihan gaya Kyokushin melalui murid-murid kepercayaannya . Setelah selesai turnamen , mereka tinggal di Jakarta beberapa hari memberikan latihan khusus kepda Sujoto . Dari latihan-latihan yang diperoleh Sujoto dalam setiap kesempatan, banyak jenis Kata Kyokushin yang belum pernah dikenal dapat dikuasai dengan baik Akhirnya Sujoto dinaikkan ke tingkatan DAN III
April 1985, kembali menggelar Kejurnas Kyokushin Karate ke II di Surabaya .
November 1985, kembali Paku Alam Cup ke II di gelar di Yogyakarta .
Maret 1986, menambah frekuensi kompetisi dengan menyelenggarakan Invitasi Nasional Kyokushin Karate di Surabaya .
November 1986, Latihan Bersama ( Gashuku ) khusus bagi para Pelatih dan Senior di Bandungan, Jawa Tengah selama 3 hari . Desember 1986, Kejuaraan Karate se Jateng dan D.I.Yogyakarta ke I digelar di Semarang.
Juli 1987, kembali Semarang melaksanakan Kejurnas Kyokushin Karate ke III . Oktober 1987, Magelang menjadi tuan rumah Kejuaraan Karate se Jateng & D.I. Yogyakarta ke II .
November 1987, Kyokushin Indonesia kembali mengirim 4 atlet menghadiri WOKT ke IV di Tokyo . Selesai turnamen Sujoto menghadiri latihan di Gunung Mitsumine sekitar 4 jam perjalanan dengan bus dari Tokyo . Latihan dipimpin langsung oleh Sosai Mas. Oyama selama 3 hari . Di tempat yang sunyi ini terdapat kuil dimana pada pagi hari sekitar pk.05.00 semua di bawa masuk kedalam kuil menerima doa keselamatan oleh para biksu disana sebelum menjalankan latihan pagi . Selama 3 hari , latihan sebanyak 5 kali terdiri dari kata, teknik dan kihon .
Maret 1988, Gashuku diadakan di Kaliurang, Yogyakarta serta pengambilan foto khusus di Candi Borobudur diikuti oleh sekitar 200 peserta untuk dimuat di Calendar tahunan yang diterbitkan oleh Kyokushin Honbu . Maret 1989, Kejurda D.I.Yogyakarta di Bantul .
Oktober 1989, Paku Alam Cup ke III di Yogyakarta .
November 1989, Kejurnas Kyokushin Karate ke IV di Jakarta . Shihan Peter Chong ( Chairman Kyokushin di Asia Tenggara ) menghadirinya . Pada kesempatan itu diumumkan olehnya, bahwa Bondan Gunawan diangkat sebagai Vice Chairman Kyokushin untuk wilayah Asia Tenggara .
Maret 1990, Seminar Karate khusus bagi seluruh pimpinan area ( Chairman ) Kyokushin di OHHITO, Jepang . Walaupun Sujoto bukan seorang Chairman Kyokushin, dia di undang untuk menghadiri latihan dan seminar tsb
Semua kesempatan latihan yang diberikan Sosai Mas. Oyama kepadanya kemudian dibukukan dan mulai timbul keinginan untuk menerbitkan buku mengenai teknik Oyama Karate .
Mei 1990, The 4th Asia Open Karate Tournament di Sapporo Hokaido, merupakan kelanjutan dari S.E.Asia Karate Tournament. Indonesia menduduki posisi ke VI atas nama Amidin .
Oktober 1990, Kejurnas Kyokushin Karate ke V di Jakarta dengan dihadiri oleh Shihan Peter Chong . Desember 1990, Bondan Gunawan dan J.B. Sujoto diundang Sosai Mas. Oyama untuk menghadiri The 22th All Japan Open Karate Tournament di Tokyo . Setelah selesai turnamen, Sosai Mas. Oyama mengangkat Bondan Gunawan selaku Chairman untuk wilayah Asia (minus Jepang) menggantikan posisi Shihan Peter Chong .
Sujoto dinaikkan ke tingkatan DAN IV .

Agustus 1991, Kejurnas Kyokushin Karate ke VI di Bekasi
November 1991, Indonesia mengirim 4 atlet menghadiri The 5th World Open Karate Tournament di Tokyo . Untuk ketiga kalinya atlet-atlet kita menghadapi kejuaraan dunia, namun tetap tidak dapat berbuat apa-apa. Disamping memang tidak ada pembagian kelas, atlet-atlet kita belum ada yang menjalankan latihannya secara intensif seperti para juara-juara dari Jepang, Eropah, Brazil .
Desember 1991, Gashuku khusus bagi senior dan pelatih selama 3 hari di Kopeng-Salatiga .

Mei 1992, Sujoto di temani Tejo Lesmono ( Pelatih Kepala Jawa Tengah ) berangkat ke Tokyo menemui Sosai Mas. Oyama dalam rangka meminta restu dan kata sambutan untuk penerbitan buku Teknik Oyama Karate seri Kata serta foto-foto beliau untuk cover buku tsb. Sebelum restu diberikan, Sujoto disuruh mengikuti latihan yang langsung dipimpin Sosai Mas. Oyama sendiri.
Didalam latihan pada hari sore tsb. hampir seluruh Kata yang ada di buku diminta dilakukan bersama sama dengan murid-murid lainnya . Rupanya Sosai ingin menguji Sujoto apakah memang benar-benar menguasai Kata yang ingin diterbitkan . Syukurlah , semua Kata yang diuji dapat dilakukan dengan baik . Malamnya dijamu secara pribadi disebuah restoran kesukaan Sosai Oyama . Besoknya disuruh kembali untuk menerima kata sambutan berikut foto-foto Sosai Mas. Oyama .
Juli 1992, menghadiri The 5th Asia Open Karate Tournament di selenggarakan di Colombo, Sri Lanka.
Oktober 1992, mengikuti Singapore International Open Karate Tournament dengan pembagian Kelas di Singapore. Pesertanya dari 30 negara termasuk Jepang. Indonesia mengirim 4 peserta untuk masing-masing Kelas . Kualitas kejuaraan ini diatas Asia Turnamen. Kita tidak memperoleh apa-apa .
Agustus1992, perguruan ini menyelenggarakan MUNAS I di Jakarta
Bondan Gunawan di kukuhkan selaku Ketua Umum Pengurus Pusat Kyokushin .
J.B. Sujoto tetap selaku Ketua Dewan Guru Kyokushin .
Januari 1993, Gashuku khusus bagi senior dan pelatih diadakan di Bandungan.
Juli 1993, kembali diadakan Gashuku di Sarangan-Madiun karena disepakati untuk dilaksanakan setiap pertengahan tahun untuk menghindari musim hujan .
Februari 1994, buku Teknik Oyama Karate seri Kata akhirnya diterbitkan oleh Elex Media Komputindo, grup Gramedia .
Awalnya hanya bertujuan untuk bacaan para pelatih yang sudah tersebar dmana-mana . Setelah selesai disusun berikut dengan foto-foto , terbit keinginan untuk disebarkan kepada siapa saja melalui penerbit supaya seluruh penggemar Kyokushin Karate dapat mendalaminya .
Seluruh Kata Kyokushin yang berhasil dipelajari oleh Sujoto semenjak diangkat selaku Branch Chief terdapat didalam buku ini.
Tgl. 22-23 April 1994, mengikuti The 6th Asia Open Karate Tournament di Katmandu, Nepal . Indonesia hanya mengirim seorang atlet dan memperoleh posisi Juara ke III atas nama Budi Santoso .

26 April 1994, Sosai Masutatsu Oyama , pendiri Kyokushin Karate, meninggal dunia secara mengejutkan di rumah sakit Tokyo. Dunia kehilangan seorang tokoh karate yang terbesar di abad 20 . Beliau semasa hidupnya telah berjuang mengangkat nama besar Karate ke seluruh dunia . Di surat kabar Amerika dijuluki "God Hand" karena kehebatan sabetan tangannya dalam beberapa pertunjukan . Karangan buku-buku karate Sosai Mas Oyama sudah terjual berjuta-juta exemplar dan dianggap terlaris didunia seni beladiri . Sulit mencari orang lain untuk menandingi kehebatannya . Pertengahan Juni 1994, Gashuku khusus pelatih dan senior diadakan di Pengandaran, Jawa Barat .
26 Juni 1994, Sujoto ikut menghadiri upacara perabuan Sosai Oyama di Tokyo . Banyak tokoh-tokoh terkenal dikalangan baik putih maupun hitam yang datang memberikan penghormatan terakhir termasuk Pegulat Profesional Inoki .
Dari pagi hingga malam terlihat barisan yang sangat panjang hingga keluar gedung memutar ke jalan - jalan menunggu dengan sabar untuk memberikan penghormatan nya . Terbukti semasa hidupnya, beliau sangat dihormati dan disegani . Abu Sosai Mas. Oyama dimakamkan di Gunung Mitsumine, tempat anggota Kyokushin berlatih setiap seusai Kejuaraan Dunia atau peristiwa-peristiwa karate lain . Seusai upacara perabuan , semua tokoh-tokoh Kyokushin dari seluruh dunia hadir didalam sebuah rapat dan mengukuhkan Shokei Matsui selaku pengganti Sosai Masutatsu Oyama . Selanjutnya disebut Kancho Shokei Matsui .

Thn.1995, sayang sekali, baru beberapa bulan, terjadi suatu perpecahan diantara pengikut-pengikut Sosai Oyama . Sebagian mengikuti Nishida dan disebut IKO 2 ,sedangkan lainnya tetap dengan Shokei Matsui dan disebut orang-orang sebagai IKO 1 . Untuk menjaga kekompakan, di Indonesia sebagian disuruh mengikuti IKO 2 dan sebagian besar tetap di IKO 1. Tujuan Sujoto agar supaya tidak kemasukan pihak ketiga untuk memecahkan Kyokushin di Indonesia .
Maret 1995, Buku Teknik Oyama Karate seri Kata dicetak ulang yang kedua kali .

 
Juli 1995, Gashuku khusus Pelatih di Ciloto, Puncak .
Karena tekanan-tekanan politik yang dihadapi Bondan Gunawan, akhirnya memilih mengundurkan diri sebagai Ketua Umum Kyokushin .
September 1995, Konvensi Kyokushin Karate se Asia - Pasifik di Singapore . Selama 3 hari latihan bersama dengan Kancho Matsui dan Shihan Bobby Lowe . Sebagian besar Branch Chief masih tetap memilih bergabung dengan Kancho Matsui .
November 1995, mengikuti The 6th WOKT versi IKO 1 di Tokyo .
Januari 1996, mengikuti The 6th WOKT versi IKO 2 di Yokohama

Februari 1996, buku Teknik Oyama Karate seri Kihon diterbitkan oleh penerbit Elex Media Komputindo .
Setelah seri Kata diterbitkan pertama kali, banyak pembaca minta di terbitkan seri Kihon. Untuk memenuhi keinginan tersebut, Sujoto menyusun seri Kihon Teknik Oyama Karate .
Juli 1996, Gashuku khusus Pelatih dan senior di Tawangmangu, Solo

Oktober 1996, The 7th Asia Open Karate Tournament di Madras, India . Indonesia memperoleh posisi ke empat atas nama Collins O Mogot .
November 1996, MUNAS II diselenggarakan di Bekasi . Damanhuri Husein , Ketua Pengda Jabar di minta menggantikan posisi Bondan Gunawan yang sudah mengundurkan diri sebelumnya
Perguruan ini mengganti nama yang lebih praktis dengan sebutan KYOKUSHIN KARATE INDONESIA dan disingkat KYOKUSHIN .
April 1997, mengikuti 97 World Weight Category Karate Tournament di Tokyo. Kejuaraan Dunia I dengan pembagian Kelas yakni Kelas 70 Kg, 80 Kg, 90 Kg dan diatas 90 Kg . Indonesia atas nama Anthony F. Pajouw mewakili wilayah Asia dalam Kelas diatas 90 Kg . Juni 1997, menghadiri Konggres FORKI ke X di Bogor .
Juli 1997, Gashuku khusus untuk sabuk hitam ( Black Belt Course) di Kopeng, Salatiga.
November 1997, Kejurnas Kyokushin Karate ke VII di Bekasi . Juli 1998, Black Belt Course di Kopeng Salatiga .
Kejurnas tidak di laksanakan karena keterbatasan dana. Krisis moneter terus berlangsung.
Pengurus baru mengalami kesulitan untuk melaksanakannya .

November 1999, menghadiri The 7th World Open Karate Tournament di Tokyo .
Kejurnas kembali tidak terlaksana .

Januari 2000, Bondan Gunawan diangkat sebagai Sekretaris Negara R.I.
Buku Teknik Oyama Karate seri Kata dicetak ulang yang ke tiga kali . Juli 2000, Black Belt Corse di Kopeng, Salatiga .

Oktober menghadiri The 8th asia Open Karate Tournament di Manila, Philipina. Indonesia menduduki posisi ke V atas nama Mario Christi . Setelah usai turnamen dilakukan latihan bersama di Puerto Galera, Mindoro, Philipina selama 3 hari dipimpin Shihan Yuzo Goda, Shihan Hatsuo Rhoyama, Shihan Peter Chong.
November 2000, MUNAS III & Kejurnas Kyokushin Karate ke VIII di Semarang .
Bondan Gunawan kembali diangkat sebagai Ketua Umum Pengurus Pusat Kyokushin .
Jaman sudah berubah ; terjadi reformasi ; tekanan-tekanan sudah hilang .
Dalam menjalankan perguruan Kyokushin dibutuhkan orang yang memiliki sudut pandang serta
penghayatan philosofi Kyokushin yang sama dan sejalan dengan Shihan J.B. Sujoto , dan orang
tersebut adalah Sensei Bondan Gunawan S .
Januari 2001, Rapat Pengurus Pusat Kyokushin di Surabaya . April 2001, pelantikan Pengda Jatim yang baru oleh Sensei Bondan Gunawan selaku Ketua Umum Pengurus Pusat Kyokushin . Darmawan Utomo ditunjuk sebagai Ketua Pengda Jatim .
Sejak Pengda Jatim terbentuk kira2 19 thn y.l. , ini merupakan Pengda yang ke empat . Sedangkan pengda y.l. hilang tak berbekas .
Juli 2001, Black Belt Course untuk pelatih dan senior di Kopeng, Salatiga .
Semangat Budo Karate kembali di tegakkan untuk memperbaiki sikap dan etika Kyokushin yang condong merosot . Pada kesempatan ini juga diadakan training centre bagi atlet-atlet yang akan mengikuti Indonesia Open Karate Tournament di Surabaya .
Oktober 2001 , Kejurnas Kyokushin Karate ke IX dan sekali gus menyelenggarakan The 1st Indonesia Open Karate Tournament di Surabaya . Negara luar yang ikut mengambil bagian terdiri dari : Singapore, Malaysia, Philipina, Brunei dan India . Keluar sebagai Juara Indonesia Open :
1. Anthony F. Pajouw. 2. Mas Guffron Heru S. 3. Heru Joko S. 4. Hilal Wimbogo .

Kegiatan ini didukung sepenuhnya oleh UTOMO DECK ( senpai Darmawan Utomo ) dan JAVANONY - BOGOR ( senpai Luki F. Hardian ) .
25 Januari 2002 , Kyokushin Karate Indonesia genap berusia 20 tahun dan akan disyukuri bersama di Semarang . Kegiatan-kegiatan yang akan dilaksanakan dalam acara HUT 20 adalah memilih peserta terkuat dalam Tameshiwari , peserta terbaik dalam Kata ( Jurus ) , kompetisi Jiyu Kumite Kelas Putri dan Kelas Anak-Anak ( 10-12 thn) Putra .

Semoga Kyokushin Karate Indonesia jauh lebih maju pada 20 tahun mendatang dibawah generasi-generasi penerus .
 

 

ليست هناك تعليقات:

إرسال تعليق